Beranda | Artikel
Sang Pemenang Ramadan
Jumat, 5 April 2024

Bismillah.

Bulan Ramadan merupakan sarana untuk menempa semangat juang kaum beriman. Sebab, pada hakikatnya hidup ini penuh dengan perjuangan dan ujian. Allah berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira mereka ditinggalkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman.’, lantas mereka tidak diberi ujian?” (QS. Al-’Ankabut: 2)

Waktu secara umum adalah wahana pemberian ujian dan cobaan bagi segenap insan. Allah berfirman,

وَٱلْعَصْرِ ١ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

Jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan adalah rangkaian episode cobaan dan ujian keimanan. Apakah seorang dapat menjadi penakluk hawa nafsu dan pengejar akhirat, ataukah ia justru terlempar ke barisan pemuja dunia dan budak fatamorgana?!

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata, “Jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak- anak dunia!” Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap hari berlalu, maka lenyaplah bagian dari dirimu.” Demikianlah keadaan manusia. Ada di antara mereka yang bergabung dengan pejuang iman dan pembela hidayah, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang larut bersama gempuran fitnah dan hanyut bersama arus kehinaan dan kerusakan. Wal ‘iyadzu billah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, bulan Ramadan ini menjadi lahan produktif untuk menyemai amal saleh dan memperkuat pondasi ketakwaan. Amal yang murni untuk Allah dan mengikuti pedoman dari rasul terakhir yang diutus di muka bumi. Allah berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا 

“Maka, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من صَام رمضان إيِمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِر له ما تَقدَّم من ذَنْبِه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dalam keadaan beriman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menjadi penanda bagi kita bahwa memanfaatkan bulan Ramadan untuk memperbarui iman dan membersihkan jiwa adalah bagian dari perintah agama. Sebab, manusia penuh dengan kesalahan dan dosa. Ia senantiasa butuh pembersihan dan pemurnian. Sebagaimana halnya ibadah salat lima waktu dalam sehari semalam yang digambarkan seperti mandi 5 kali dalam sehari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dan menguat dengan adanya amal saleh dan ketaatan, dan ia melemah serta berkurang akibat dari kelalaian dan maksiat. Di sinilah peran Ramadan menggenjot amal saleh dan memperkuat akar-akar ketaatan. Sebab, di dalam Islam, amal bukan dibangun di atas pemikiran dan perasaan. Akan tetapi, ia berkembang dari pancaran wahyu dan petunjuk Nabi. Allah berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ ٣ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ ٤

“Dan tidaklah ia (Muhammad) itu berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)

Baca juga: Ramadan Mengajarkanku Keistikamahan

Seperti itulah kaidah dan prinsip yang selalu ditanamkan oleh para ulama salaf kepada kita, bahwa amal harus dibangun dengan petunjuk wahyu. Ia tunduk kepada bimbingan Allah dan arahan Nabi. Allah berfirman,

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Barangsiapa menolak hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berada di tepi jurang kebinasaan.”

Ibadah puasa Ramadan, qiyam Ramadan, sahur, buka puasa, iktikaf, zakat, dan lain sebagainya adalah bentuk ibadah-ibadah yang semuanya dibangun di atas pondasi wahyu dan petunjuk Allah. Bukan hasil rekayasa pemikiran manusia. Bukan produk budaya atau kompilasi tradisi bangsa dan suku tertentu di alam dunia. Ia merupakan syariat dari Rabb, Penguasa alam semesta. Inilah pilar tegaknya penghambaan kepada Allah, yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa Islam adalah kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Keislaman inilah yang diajarkan para nabi dan rasul kepada umat di sepanjang masa. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ 

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyeru, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Islam tegak di atas tauhid. Karena ibadah kepada Allah tidak diterima tanpanya. Allah berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu, ‘Jika kamu berbuat syirik, pasti lenyap semua amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.’” (QS. Az-Zumar: 65)

Ibadah puasa Ramadan bukanlah ibadah yang berdiri sendiri. Akan tetapi, ia tegak di atas nilai-nilai iman dan pondasi akidah. Oleh sebab itu, di dalam surah Al-Kahfi ayat 110 di atas, telah disebutkan bahwa amal saleh yang dilakukan itu harus bebas dari kesyirikan. Begitu pula, ditegaskan dalam surah Az-Zumar ayat 65 bahwa syirik akan menghancurkan amal-amal kebaikan. Inilah konsep ibadah dan ketaatan di dalam agama Islam. Ibadah yang dibangun di atas pemurnian amal kepada Allah dan berlepas dari dari syirik. Allah berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan, melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya dalam keadaan hanif/bertauhid dan ikhlas….” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ibadah puasa dalam konsep Islam tidak terlepas dari pembinaan akhlak dan penjagaan hati. Karena itulah, disebutkan dalam hadis bahwa Allah tidak ‘membutuhkan’ ibadah puasa dari orang yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tindakan bodoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak meraih apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. Ini artinya ibadah puasa hanya akan membuahkan derajat yang mulia jika dipelihara dari segala perusak dan kotoran yang menodainya.

Ketika seorang muslim menundukkan akalnya untuk menahan haus dan lapar sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari di ufuk barat, maka ini adalah pelajaran tentang kecintaan dan perendahan diri. Bagaimana seorang muslim lebih mendahulukan perintah Rabbnya daripada keinginan hawa nafsu dan akal pikirannya. Bagaimana seorang hamba meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu demi mendapatkan keridaan dan kecintaan Allah.

Orang yang lulus dari madrasah Ramadan ini bukanlah mereka yang berhari raya dengan baju baru, menyalakan petasan, atau menggelar pentas musik sembari melalaikan salat berjemaah di masjid. Mereka yang sukses menjadi juara dari madrasah Ramadan ini adalah orang-orang beriman yang tunduk kepada bimbingan Allah. Allah berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Maka, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

Mereka yang tampil sebagai pemenang adalah yang menyerap takwa ke dalam sanubari dan membuahkan amal saleh di dalam kehidupannya. Allah berfirman,

١٨٢ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau sekadar memperindah penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amal-amal perbuatan.”

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah seraya mengharapkan pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan hukuman Allah.”

Demikian sedikit catatan dan perenungan, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Baca juga: Untukmu Wahai Pencari Kebaikan, Inilah Saatnya di Bulan Ramadan

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.


Artikel asli: https://muslim.or.id/92726-sang-pemenang-ramadan.html